tes kepribadian

January 15th, 2007 by neng-tri

***You Are An ESFP***

The Performer

You are a natural performer and happiest when you’re entertaining others.
A great friend, you are generous, fun-loving and optimistic.
You love to laugh - and you like almost all people equally.
You accept life as it is, and you do your best to make each day fantastic.

You would make a good actor, designer, or counselor.

What’s Your Personality Type?
http://www.blogthings.com/whatsyourpersonalitytypequiz/

Andai Dia Tahu

January 15th, 2007 by neng-tri

Perasaan ditindas seringkali muncul. Baik itu ditindas secara lisan maupun dengan perbuatan.

Ketika posisi kita rendah, kita memang mudah dikendalikan dan tidak punya kekuatan.

Ini kurasakan berkali-kali. Seseorang yang berkuasa berusaha untuk ‘menindas’ golongan tertentu yang dia benci.

Dia sering kali menyakiti hati secara halus maupun kasar. Mendepak orang yang menurut dia akan mengancam. Di sisi lain dia mengajak orang yang akan memperkuat posisinya.

Dalam hati ini timbul kebencian dan bara permusuhan terhadap orang tersebut. Muak rasanya…

Terlebih lagi dengan sikap dan rencana-rencana busuknya yang benar2 membuatku ingin menghajarnya.

Seringkali aku ingin menghindarinya. Hati nuraniku tak bisa menerima permusuhan terselubung seperti ini. Aku benci!!! Aku suka dengan kedamaian, keterbukaan, simpati…

Tapi ini adalah kenyataan yang harus diterima.

Di mana ada pejuang kebenaran, akan selalu ada pejuang kebatilan.

Dan memang itulah pekerjaan para pejuang kebatilan… membuat kerusakan di muka bumi.

Jika tidak ada pejuang kebatilan, tak akan pernah para pejuang kebenaran menjadi pahlawan.

Tahukan kawan, apa yang membuat orang berkuasa ini benci pada golongan itu?

Islam… karena golongan itu adalah golongan orang yang berusaha memegang islamnya dengan teguh.

Andai saja dia tahu… bahwa ISLAM ini agama yang indah…

Tentu dia akan berbalik memperjuangkan Islam dengan seluruh potensi yang dimilikinya.

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM inilah jalan kebenaran yang membawanya ke surga…

Tentu dia akan memeluknya dengan erat hingga akhir hidupnya

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM bukan agama permusuhan…

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM adalah agama yang mampu membangun peradaban di dunia ini…

Andai saja dia tahu bahwa ISLAM adalah janji dia dengan Tuhannya ketika dia masih berada di alam ruh…

Andai saja dia tahu bahwa sebenarnya ISLAMlah yang paling sesuai dengan fitrah dirinya sebagai manusia…

Andai saja dia tahu bahwa ISLAMlah yang membuat dia selamat…

Andai saja dia mengenal siapa diri dan Tuhannya yang sebenarnya…

ya ALLAH sungguh dia orang yang belum paham…

Pahamkanlah dia…

Jadikanlah keturunannya sebagai golongan yang mengerti dan memperjuangkan agamamu…

(teringat akan doa Rasulullah SAW pada penduduk Thaif…)

Allahummashalli ala muhammad wa ala alihi shahbihi ajmaiin

amin

gak ada libur :(

January 12th, 2007 by neng-tri

"teh, kalo teteh kapan liburnya?"

"waduh :(   kalo kuliah reguler libur, kuliah e-learning g libur dan sebaliknya… jadi gak ada intersection liburnya …"

__________________________________________________________________________

"teh, entar pulangnya sore ya?"

"ntar siang pulang kok, kan mu ke undangan."

"trus pergi lagi?"

:(  "ya iya.. kan mu ngaji…"

UNTUK PARA ORANG TUA/CALON AYAH & BUNDA- ungkapan jujur seorang anak

January 8th, 2007 by neng-tri

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak
sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya
memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya
menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas
unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru
tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung
dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada
Dika:
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya
kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal
dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja
namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih
dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang
menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu
psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke
tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca
diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :…."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya
berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya
merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita,
kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir
bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan
mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan
jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika
hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku …"
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku
ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang
diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian
membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani
orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis
dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti
itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja
keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan
beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami
lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada
kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian
iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan
tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di
waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ….."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut
saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang
penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya
dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan
pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang …..",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling
hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya
dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ….."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin
ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah
tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah,
pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya
hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa
perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh
anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari …."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
"tersenyum"

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku…."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang
paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang,
tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam
Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena
selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan
hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak
ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an
Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati
Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah
anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua
ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau
marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati
ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di
dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam
ajaran dan nasehat yang baik.
(Ditulis oleh : Lesminingtyas)

Cerita Tentang Tiket Kereta

December 30th, 2006 by neng-tri

Jam 7.00 mobil melaju kencang menuju stasiun kereta Bandung. Ada tiga orang di mobil, aku, kakakku, dan Teh (Uni) Rima. Maksimal Jam 7.30 kami harus sudah sampai di stasiun mengejar kereta Lodaya menuju Solo.

Sebenarnya tujuan Teh Rima adalah Yogyakarta. Beliau ingin mengabiskan waktu liburan akhir tahun ini di sana. Mungkin di rumah temannya. Aku tak tahu pasti. Yang pasti akulah yang membelikan beliau tiket kereta untuk hari ini. Kelas bisnis no seat 19. Gerbong no.2. Harganya Rp90.000. Sengaja kubelikan kelas bisnis, biar hemat :P Walaupun waktu membelinya aku tidak meminta pertimbangan beliau karena beliau masih berada di Jakarta bersama kakakku. Aku sendiri membelinya dengan terburu-buru. Bentrok dengan jadwal Liqo. Sampai-sampai aku telat datang liqo demi selembar tiket Lodaya tersebut. Mau bagaimana lagi, kakakku memintaku membelikan tiket tersebut tepat sebelum aku berangkat menuju Liqo, via handphone. Kalau tidak kulakukan, akan ada pihak yang terzhalimi. Ya… sedikit mengaplikasikan fiqh prioritas.

Di sekitar Jalan Suniaraja aku sempat berdebat dengan kakakku.

“Ini belok kanan kan?”

“Bukan, belok kiri lagi…, kemaren aku lewat sini kok. Masuknya dari pintu selatan.” Sanggahku

“Nanti malah jadi muter!” Kakakku menyanggah balik, tapi lengannya terpengaruh ucapanku. Setir mobil diarahkan ke kiri.

Waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi.

“Nah di sini baru belok kanan, trus di depan belok kiri.” Aku menjelaskan

Kakakku mengikuti arahanku.

Jam 7.30 kurang sedikit kami tiba di stasiun kereta. Aku dan Teh Rima bergegas memasuki pintu selatan stasiun. Aku langsung menerobos masuk tanpa bayar peron :P Petugas peron seolah memaklumi kami sedang terburu-buru. Untungnya kereta Lodaya menuju Yogyakarata berada tepat di depan gerbang masuk. Mata kami mencari gerbong no 2. “

Oh itu tuh…” Kata Teh Rima sambil menujuk Gerbong bernomor 2 di bagian depan kereta

Kami berdua berjalan cepat menuju gerbong tersebut. Aku ikut naik ke gerbong untuk memastikan beliau memasuki gerbong yang benar.

Memasuki gerbong, ku melihat pemandangan yang mengingatkanku pada musim panas tahun ini di Stasiun Groningen Belanda. Bule-bule dengan pakaian tanpa lengan dan celana pendek. dan ada AC di atas kabin gerbong. Aku curiga…

Teh Rima sedang sibuk mencari tempat duduknya.

“Teh ini kayaknya eksekutif deh…soalnya ada AC nya” Aku sedikit berteriak pada Teh Rima.

Tanpa banyak bicara kami langsung keluar, dikejar2 waktu sih… Kami bergegas menuju kearah kereta bagian belakang.

No 1-11…

Tulisan ini tertempel di samping pintu gerbong.

Buru-buru Teh Rima masuk ke gerbong ini.

Dari pintu selatan stasiun kakakku berjalan menuju kearahku dengan langkah sigap.

Aduh salah! Pikirku

Kan seatnya nomor 19.

Tapi Teh Rima sudah keburu masuk ke dalam gerbong. Aku melihat Teh Rima melintas di jalan sambungan antargerbong. Dia masih mencari tempat duduknya.

Beberapa detik kemudian kereta melaju. Dari luar aku dan kakakku melambaikan tangan pada Teh Rima yang akhirnya menemukan tempat duduknya.

Alhamdulillah… tidak terlambat.

“Pas banget ..” kata kakakku

“Iya alhamdulillah, banyak untungnya. Untung lewat pintu selatan. Coba kalo kita lewat pintu utara, mungkin kita telat. Karena jarak dari pintu utara ke kereta lebih jauh daripada jarak pintu selatan.” Jawabku

Senangnya… untuk kedua kalinya aku menolong teman yang akan traveling naik kereta.

Orang pertama yang kutolong adalah Mbak Dokter Prima :P . Seusai Summer School di RUG beliau berencana mengunjungi temannya di Utrech. Temannya sudah mengirimkan tiket kereta eksekutif khusus untuknya.

Aku baru akan berangkat ke Zuitermeer keesokan harinya. Ini kesempatan terakhir aku bersama Mbak Prima, temen muslimahku satu-satunya di Summer School. Jadi pagi itu aku mengantar Mbak Prima ke stasiun kereta bersama dua teman se-almamater Mbak Prima (dari UGM)

Sebenarnya pagi itu juga Denis pulang ke Ghent Belgium. Namun dia memilih pergi lebih pagi sendirian karena keretanya memang berangkat lebih pagi. Sesampainya di stasiun kami sempat bertemu Denis. Dia memberikan kartu pos pada kami berempat. Di menuliskan sebuah pesan singkat pada kartu pos itu:

“Nice to meet you in Groningen. See you at www…”

Kemudian kami berpisah di situ. Setelah Summer School ini Denis berencana Traveling ke Peru bersama teman-temannya.

Saat itulah Mbak Prima mengeluarkan tiket keretanya dan…. Astaghfirullaah… di mana tiketnya?

Kok gak ada?

Kami berempat jadi panik. Kami berusaha membantu Mbak Prima mencari tiket kereta Eksekutifnya…

Aku berusaha meng-sms Pak Soegi yang masih ada di Guess House. Aku meminta tolong beliau untuk mencari tiket Mbak Prima di ruang makan. Mbak Prima merasa sempat mengeluarkan amplop berisi tiket dari temannya saat kami breakfast. Beberapa saat kemudian Pak Soegi membalas bahwa hasilnya nihil. Semua orang di Guess House sudah ikut mencari gagal. Y

a Allah… Apa mungkin terjatuh di jalan? Pikir Mbak Prima

Jarak dari Guess house ke Stasiun cukup dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi akan sia-sia, kereta akan segera berangkat Kalau kami men-trace jalan dari Guess House ke stasiun tiket Mbak Prima akan terlambat dan tiketnya hangus tiada guna.

Ya Udah… Berarti Mbak Prima harus menerima kenyataan pahit bahwa dia harus membeli tiket sendiri untuk pergi ke Utrech. Sialnya lagi, kami gak punya uang receh untuk membeli tiket via mesin tiket. Ah… berarti harus mengantri di loket pembelian tiket. Bergegas kami menuju loket.

Di ruang loket Mabk Prima segera memasuki antrian. Kami bertiga menuggu. Tanpa sengaja mataku terarah pada flyer-flyer promosi di ruang loket.

Zoomer tour

Tulisan ini ada di salah satu flyer tersebut

Aha….. Aku kan masih punya tiket Summer Tour yang kubeli bersama Bu Tati di Schiphol. Tiket ini bisa dipakai ke seluruh Belanda oleh dua orang selama 1 pekan. Hari itu adalah tepat hari terakhir masa berlaku tiket Summer Tour itu. Saat ini tiket itu terselip di dompetku.

Allahu Akbar!!!

Tiket ini memang rezekinya Mbak Prima…

Buru-buru ku beritahu Mbak Prima bahwa aku masih punya tiket Summer Tour yang bisa dipakai ke mana saja. Untungnya beliau masih di antrian dan belum membeli tiket.

Alhamdulillah… tanpa persetujuan Bu Tati aku berikan tiket itu. Kupikir beliau akan setuju, kalaupun besok kami pergi ke Zuitermeer, kami tidak akan bisa menggunakan tiket itu. Udah keburu expired. Alhamdulillah… akhirnya Mbak Prima pergi ke Utrech dengan tiket Summertour itu. Walaupun tiket tersebut bukan tiket eksekutif, yang penting bisa pergi ke sana tanpa mengeluarkan euro lagi

Beberapa waktu kemudian, Kak Arga meng sms ku. “kasiin aja tiket summer tour kamu buat prima…” “Udah kukasiin dengan senang hati …” balasku

Esok paginya, aku bertemu dengan Bu Tati di stasiun. Kami berdua akan ke Zuitermeer. Beliau semapat meminta tiket summer tour kami berdua. Rupanya informasi ynag beliau dapat tiket itu berlaku untu k8 hari. Kukatakan bahwa tiket itu hanya berlaku hingga kemarin dan sudah kuberikan pada Mbak Prima. Alhamdulillah beliau paham dan mengikhlaskan tiket itu  :)

Senangnya aku bisa membantu temanku disaat di benar2 menbutuhkan bantuanku

Apa yang kuinginkan…

December 28th, 2006 by neng-tri

Menyatakan apa yang kuinginkan mengingatkanku pada training ESQ pada sesi mission statement.

Kalo yang dah pernah ikutan, pasti ngerasain bagian ini bagian yang paling menyeramkan. Ruangannya digelapin.Peserta disuruh berpasang-pasangan (tentunya perempuan sama perempuan, laki2 sama laki2 lagi). Masing-masing pasangan duduk berhadap-hadapan. Mereka diinstruksikan untuk saling menanyakan apa yang mereka inginkan. Caranya dengan saling berpelukan (kayak teletabis :P ).

Peserta yang bertanya mengatakan :

"apa yang kau inginkan?" sambil memukul punggung rekannya sekeras2nya

Peserta yang ditanya harus serta merta menjawab apa yang ada dalam hatinya ttg apa yang dia inginkan sekeras-kerasnya. Satu kali pertanyaan satu kali jawaban plus satu kali pukulan (buseeet… sakit euy!). Dan jawaban gak boleh diulang, harus beda-beda.

Kenapa musti dipukul? karena (kata trainernya) dengan dipukul itu akan memudahkan kita mengungkapkan apa  yang terpendam dalam hati kita. Jadi nanti akan keluar semua rahasia-rahasia yang terpendam dalam diri kita (wow!!!). Makanya sebelum simulasi ini dimulai tiap pasangan peserta berjanji untuk saling menjaga rahasia.

Hmmm… menegangkan

Masalahnya mayoritas peserta berpasangan dengan orang yang baru dikenal saat training. Gawat surawat…

Untuk lebih memperjelas, di atas panggung dua orang asisten trainer mencontohkan bagai mana seharusnya simulasi ini berlangsung.

Memang benar ternyata jawaban2 yang keluar adalah jawaban yang manusiawi. Dalam artian gak direkayasa karna jaim. Misalnya: uang, kedudukan, wanita, etc etc…

Ketika simulasi itu berlangsung, situasi makin menyeramkan. Lampu ruangan dipadamkan, dan diperdengarkan pertanyaan dari malaikat penjaga kubur pada manusia. Seolah-olah teman yang bertanya pada kita berubah menjadi malaikat penjaga kubur dan kita adalah mayitnya (wuuuuu, serem amat). Suaranya keras banget sampe-sampe mobil2 yang sensitif alarmnya bunyi bersahut-sahutan.

Nah… aku juga heran, waktu aku menjalani simulasi ini… apa yang kuinginkan ternyata sesuatu yang baik2 :D wehehehe…

Tapi dalam praktiknya, seringkali apa yang kulakukan tidak mendukung apa yang kuinginkan dan kusebutkan saat simulasi.

Apa dalam diriku udah terlalu banyak evil nya ya? sampe-sampe apa yang sebenarnya tersimpan di dasar hati (ci yeee… ) tidak bisa muncul dan menjadi sikap yang nyata. Astaghfirullaah.

Mungkin ini yang disebut dengan belenggu yang menghalangi dorongan dari god spot untuk diimplementasikan dalam kehidupan.

Dan yang paling aneh, seringkali apa  yang diinginkan itu yang tidak diperlukan dan tidak harus dilakukan. Duh… manusia…

Apa yang kuinginkan saat ini:

  • olahraga
  • "bermain"
  • belajar bahasa jepang
  • menghafal alquran
  • ngeblog
  • xxxxxxx (sensor :P)
  • tidur
  • nangis…

Padahal yang harus kulakukan saat ini (diantaranya) adalah:

  • ngerjain PR (setumpuk-tumpuk….)
  • ngerjain CPM
  • blajar buat ujian akhir semeter
  • wawancara mbak siti (mantan ketua salimah)
  • etc etc…

smoga aja dengan shaum hari ini evil-evil yang bersarang dalam diri bisa musnah perlahan.

kan… dalam hadits, shaum arafah itu menghapus dosa tahun ini dan tahun depan.

amiiin…

Selamat Hari Arafah

Selamat Idul Adha

2 tipe laki2

December 28th, 2006 by neng-tri

2 malem yang lalu aku diskusi dengan seorang ummahat via telepon. Diskusi ini bertemakan persoalan seputar rumah tangga. Diskusi mengalir seperti air hingga kami sampai pada satu fakta yang cukup mengejutkan (bagiku). Tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia ini memang ada dua tipe laki-laki. Tipikal Laki-laki yang merasa cukup mencintai satu wanita saja dan laki-laki yang tidak bisa mencintai satu wanita saja.

Di lapangan memang ditemui beberapa kasus. Misalkan suami ummahat ini (yang bediskusi denganku), dia adalah tipikal suami yang cukup mencintai satu wanita saja. Menurut pengakuan ummahat dia pernah bertanya pada suaminya.

Kapan abi mau nikah lagi?

Duh umi, abi mah gak kepikir buat nikah lagi. jawab suaminya

Katanya kalo pulang ke rumah, anak-anak dirangkul, diciumin, diajak main, etc. Uminya aja gak segitunya banget ke anak-anak. Dia adalah suami yang cinta rumah, begitu kata istrinya.

Beda lagi dengan kasus yang lain. Memang ada bapak-bapak yang gak bisa mencintai hanya satu wanita saja. Untuk bapak-bapak yang punya pemahaman islam yang cukup baik dan tertarbiyah, mereka berusaha menghindari dirinya dari kemaksiatan. Selain itu mereka mampu mengukur dirinya sampai sejauh mana mereka mampu berbuat adil dan siap membina lebih dari satu keluarga sekaligus.Apabila mereka merasa tidak mampu dan tidak siap mereka menahan dirinya untuk cukup mencintai satu wanita saja. Apabila mereka siap, dengan keridhoan istrinya mereka menambah anggota keluarga mereka dengan kehadiran istri yang baru.

Pembicaraan meluas ke masalah yang sedang mencuat saat ini. Aa Gym… Lutfiah Sungkar pernah mengeluarkan pernyataan, "Kalo Aa Gym memang ingin membantu janda, masih banyak tuh janda2 yang harus dibantu. Mereka ada di kolong-kolong jembatan.

"Seharusnya Aa Gym memilih janda yang lebih tua dan lebih jelek dari Teh Ninih." begitu kurang lebih pernyataan Lutfiah Sungkar

Menurut ummahat tersebut, kita harus lebih manusiawi memandang laki-laki. Ustadz juga manusia. Kalo perempuan senang dengan baju yang cantik dan matching, itu adalah fitrah perempuan yang suka dengan keindahan. Laki-laki pun punya fitrah suka dengan keindahan. Aa Gym berusaha untuk memadukan antara fitrahnya dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Istri keduanya, ya janda ya cantik. Yang terpenting untuk kita adalah, kalo istri pertamanya udah ridho ngapain kita sibuk mengomentari macem2. Itu kan urusan rumah tangga orang lain. Orang yang kita anggap tersakiti aja adem ayem aja tuh. Ngapain kita sibuk sendiri?

Kasus lainnya adalah Ustadz Axxx (kenapa yang disensor selalu berinisial A ya?) Istri kedua ustadz ini adalah muslimah berdarah eropa. Bule… dan cantik… Orang pada umumnya pasti terkejut dan bertanya-tanya. kenapa sih musti pilih muslimah bule? kan masih banyak muslimah indonesia yang lajang dan shalihah? Kembali lagi ke yang tadi, istri pertama ridho kok? ngapain kita pusing sendiri?

Bahkan diriwayatkan Saudah binti Zam’ah, istri pertama Rasulullah setelah Khadijah memberikan jatah gilirannya pada Aisyah karena tahu persis bahwa Rasulullah sangat berbunga-bunga hatinya saat bersama Aisyah. Padahal Saudah lebih senior dari Aisyah.

Dalam dunia kontemporer saat ini ada juga ummahat yang memang mempersilahkan suaminya untuk "mencintai" lebih dari satu wanita. Bahkan dia memilihkan pasangan yang terbaik untuk suaminya, karena dia yang paling tau siapa yang paling tepat untuk suaminya.

Diskusi ini memberikan aku wawasan yang baru. Pelajarannya adalah kita harus mengetahui termasuk tipe yang manakah tipe (calon) suami kita? Apakah kita termasuk perempuan yang siap mendampingi (calon) suami kita dengan tipe yang dimilikinya ?

Buat cowok, ketahuilah dirimu termasuk tipe yang mana? dan beritahukan pada calon istrimu? :)

Teman2 Tolong luruskan bila aku salah

Hei hei…

December 26th, 2006 by neng-tri

baru sadar kalo blogku ini ditampilin sama si achai di planet.el02itb.org

waaaaaaaaah…
aku kan suka pake bahasa2 yang aneh…

maaf ya kalo pada gak ngerti

kalo gak ngerti ngacung aja ya…
pasti tetep gak ngerti
wehehehe……..

25 desember 2006

December 26th, 2006 by neng-tri

Siang ini coba ngafalin halaman 7
buat setoran besok sore. Seperti biasa 1 halaman itu dibaca berulang2 dengan cepat dulu ampe lebih
dari 20 balikan. Sebenarnya dari kemaren malem sih mulai baca cepetnya. Tapi
diulang lagi supaya lebih mudah mengingat. Setelah ngerasa cukup, mulai deh
menghafal per ayat. Berhubung ngafalinnya di atas kasur, tiba-tiba udah mimpi
ketemu mama papa deh.. hihihi

Duh, kangen kali ya sama mama
papa. Ampe kemimpiin segala. Karna mimpinya sambil pegang mushaf, mushafnya
kemimpiin juga. Ya… aku sama papa tukeran mushaf. Aku pake punya papa dan papa
pake punya ku. Mushaf punyaku hurufnya sedikit lebih besar dari punya papa,
jadi lebih nyaman dibaca. Kalo aku sih dah terbiasa baca dengan mushaf dengan
huruf2 yang mungil. Jadi gak masalah.

Sayangnya ngafalin qurannya gak
kebawa mimpi… :p

 

Bangun-bangun langsung ngulang
ngafal lagi. Duh… rasanya sebelum ketiduran dah dapet ayat 38 deh. Tapi kok
skarang jadi gak inget lagi ya? Wah… apa itu mimpi juga kali ya … atau saat itu
sedang berada di alam peralihan antara sadar dan tidak?

Ya su…

Eh, ternyata ada sms dari yang
tadi kemimpiin, mama dan papa tersayang.Ci ye ci ye… Katanya mama dan papa
wukuf hari jumat, so jgn lupa pada shaum arafah. Tlg kasih tau  adik2 dan keluarga uwa. Doain supaya mama dan
papa sehat dan diberi kemudahan dan kelancaran oleh 4JJI.

Amiiiiiiin.

 

Alhamdulillah bisa cepet
ngafalnya, ¾ halaman (rasanya) didapet gak lebih dari 1 jam. Kok bisa? soalnya
dah menginput dari mengulang2 bacaan sampai puluhan kali. Jadi otak udah
familiar dengan bacaan yang dihafal.

 

Sampai ¾ halaman menghafal, tiba2
saja teringat dengan sebuah amanah dawah.

Jadi pengen nelpon sodari2
seperjuanganku.

Kuambil hp CDMA ku… telpon ukhti
Axx (sensor) ah.

Sesama esia

kan

masih gratis… :D

Bla bla bla … (rahasia…..)

Sekarang telpon ukhti Axxx
(sensor lagi :D) dengan hp GSM.

“Teh, telpon ke rumah aja…” suara
di seberang

sana

“Gapapa, teteh sekalian ngabisin
pulsa bicara,

kan

sesama xl” jawabku

Bla bla bla … (rahasia…..)

Sepertinya ada yang masih perlu
ditelpon lagi deh… Oh iya seorang ukhti yang pake nomer esia juga, ukhti Axxxxx
(sensor juga :P)

“Assalamualaikum ukhti … Pakabar?
Lagi libur

kan

?”
aku membuka pembicaraan

Bla bla bla … (rahasia…..)

 

Seperti ada rasa puas setelah aku
berbincang (walaupun hanya sesaat )dengan mereka.

 

Apakah ini parameter bahwa aku
telah berusaha melaksanakan amanah dawahku?

Atau inikah yang disebut dengan
mencintai apa yang kita kerjakan?

 

Ya, sodara seperjuanganku Haris
If 02 (gak disensor :P) pernah bilang bahwa agar kita bisa optimal dengan
pekerjaan kita, maka cintailah pekerjaan kita. Aku sendiri melihat ada
integritas dalam dirinya ketika dia mengatakan itu. Beliau mencintai
pekerjaannya sebagai trainer. Beliau merasa puas saat beliau berbagi dengan
orang lain berhasil memotivasi orang tersebut. Beliau juga mencintai
pekerjaannya mengajar bimbel di Nurul Fikri. Terbukti dengan testimonial adikku
yang 2 tahun lalu menjadi muridnya.

 

Aktivitas telpon-telpon or sms
soal aktivitas dawah ini sering kali membuatku lega. Dulu sebelum sem 8 S1 ampir
tiap malem telpon di rumah krang kring. Dan itu semua untukku. Pulsa hp minimal
100 ribu, karna sms

sana

sini. Tagihan telpon rumah jg, pernah meledak gara2 telpon2an. Huhuhuu…. Belum
punya hp cdma sih…

Setelah nelpon2 temen2, sekarang
waktunya ngesms adik2 binaan. Kalo ditelponin satu2 bisa abis pulsa :P (masih
kurang jiwa pengorbanan…. Tampaknya)

“assalamualaikum wr wb, apa kabar
ukhti shalihah? Gimana rapotnya? Liburan ini ngapain aja? Salam untuk orang tua
ya.”

Send to group…

SMS pukul rata… gak special
banget ya… ? semoga nanti bisa lebih perhatian sama adik2 binaan, jadi gak
ngirim sms pukul rata lagi.

 

Mengenai aktivitas komunikasi
dalam aktivitas dawah, selain sms dan telpon2an ngobrol langsung juga
seringkali membuatku semangat.

Kemarin sore ngobrol sama my best
friend, Ika dari bada ashar ampe isya. Curhat and diskusi macem2. Kayaknya kalo
aku gak ada rencana buat pergi ke Giant sama kakak dan adik2, Ika gak pulang-pulang tuh dari rumahku hihihi…
sorry ya Ka bukan ngusir :p

 

Ataukah ini yang disebut dengan
kebutuhan komunikasi?

Atau ini terjadi karena aku
seorang audio yang punya kecenderungan banyak ngomong ya?

 

Jadi inget The Sims… Aku sendiri
gak suka maen The Sims dan emang gak suka maen game. Di The Sims tuh kebutuhan
komunikasi menjadi point yang dinilai
dan harus dijaga keberlangsungannya.

Konon katanya mayoritas
pemasalahan dalam rumah tangga pun berakar dari komunikasi.

 

Nyambung dengan masalah
komunikasi ini, malemnya tiba2 aja aku jadi ngobrol serius sama adikku Ayang.
Padahal seumur2 belum pernah ngobrol serius sama adik2ku. Dalam artian sharing
pengalaman dan mengambil ibrohnya dan kedua belah pihak merasa nyaman dengan gaya
komunikasi masing2. Keseringannya
ngobrol tuh isinya bercanda gak jelas atau obrolan2 ringan. Biasanya ngobrol
serius kalo udah ngasih nasihat dan (sepertinya) adikku merasa tertekan kalo
dah dinasehatin. Apalagi kalo Ayang sama Ade dah berantem.

 

Aku berusaha memasukkan nilai2
dan beberapa prinsip yang kupegang melalui obrolan tersebut. Aku berusaha membuka
cakrawala pikiran adikku untuk mulai memikirkan masa depannya. Aku merasa
terlambat belum merencanakan dan mempersiapkan masa depanku dengan serius,
padahal usiaku sudah 22. Adikku, kini 15 tahun dan punya banyak waktu untuk
merencanakan mimpinya dan mempersiapkan dirinya untuk menggapai mimpi2nya itu.
Sebenarnya gak pernah ada kata terlambat sih. Tapi, lebih dini lebih baik. Karena
kesuksesan adalah bertemu persiapan dengan peluang.

 

Semoga apa yang kulakukan padanya
bisa membuatnya mulai berpikir tentang eksistensi dirinya di dunia ini dan
membangkitkan kesadaran dia untuk memperbanyak kebaikan.

 

Lagi2 aku bahagia dengan diskusi
yang kulakukan dengan adikku. Aku merasa pemikiranku diterima.

Ah… perasaan ini mengingatkanku
pada seorang teman yang menganggapku sebagai adiknya. Mengapa beliau  menganggapku adik? Menurut pengakuan beliau
sih, karena beliau merasa aku adalah orang yang bisa menerima pemikiran beliau
dan beliau merasa matching denganku. Dan dia merasa bahagia…

Entahlah…

Sebenarnya ini jadi suatu “catatan
tersendiri” bagiku

 

Buatku sendiri… pelajaran yang
kuambil hari ini adalah:

  1. Kita harus berusaha mencintai pekerjaan kita

Ini sulit,
seringkali aku mendapat pekerjaan yang tak kucintai dan aku belum menemukan
strategi yang jitu untuk menumbuhkan cinta pada pekerjaan.

  1. Pentingnya komunikasi dalam aktivitas dawah dan
         keluarga

Sebenarnya
keluarga pun adalah bagian dari da’wah. Ingat

surat

at tahrim:

Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

  1. Sepertinya aku perlu belajar lagi ttg kecerdasan
         emosional

masih gak bisa
mengidentifikasi emosi…

Posisi Yang Sulit

December 26th, 2006 by neng-tri

It’s complicated
Berada di posisi yang sulit