Cerita Tentang Tiket Kereta

Jam 7.00 mobil melaju kencang menuju stasiun kereta Bandung. Ada tiga orang di mobil, aku, kakakku, dan Teh (Uni) Rima. Maksimal Jam 7.30 kami harus sudah sampai di stasiun mengejar kereta Lodaya menuju Solo.

Sebenarnya tujuan Teh Rima adalah Yogyakarta. Beliau ingin mengabiskan waktu liburan akhir tahun ini di sana. Mungkin di rumah temannya. Aku tak tahu pasti. Yang pasti akulah yang membelikan beliau tiket kereta untuk hari ini. Kelas bisnis no seat 19. Gerbong no.2. Harganya Rp90.000. Sengaja kubelikan kelas bisnis, biar hemat :P Walaupun waktu membelinya aku tidak meminta pertimbangan beliau karena beliau masih berada di Jakarta bersama kakakku. Aku sendiri membelinya dengan terburu-buru. Bentrok dengan jadwal Liqo. Sampai-sampai aku telat datang liqo demi selembar tiket Lodaya tersebut. Mau bagaimana lagi, kakakku memintaku membelikan tiket tersebut tepat sebelum aku berangkat menuju Liqo, via handphone. Kalau tidak kulakukan, akan ada pihak yang terzhalimi. Ya… sedikit mengaplikasikan fiqh prioritas.

Di sekitar Jalan Suniaraja aku sempat berdebat dengan kakakku.

“Ini belok kanan kan?”

“Bukan, belok kiri lagi…, kemaren aku lewat sini kok. Masuknya dari pintu selatan.” Sanggahku

“Nanti malah jadi muter!” Kakakku menyanggah balik, tapi lengannya terpengaruh ucapanku. Setir mobil diarahkan ke kiri.

Waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi.

“Nah di sini baru belok kanan, trus di depan belok kiri.” Aku menjelaskan

Kakakku mengikuti arahanku.

Jam 7.30 kurang sedikit kami tiba di stasiun kereta. Aku dan Teh Rima bergegas memasuki pintu selatan stasiun. Aku langsung menerobos masuk tanpa bayar peron :P Petugas peron seolah memaklumi kami sedang terburu-buru. Untungnya kereta Lodaya menuju Yogyakarata berada tepat di depan gerbang masuk. Mata kami mencari gerbong no 2. “

Oh itu tuh…” Kata Teh Rima sambil menujuk Gerbong bernomor 2 di bagian depan kereta

Kami berdua berjalan cepat menuju gerbong tersebut. Aku ikut naik ke gerbong untuk memastikan beliau memasuki gerbong yang benar.

Memasuki gerbong, ku melihat pemandangan yang mengingatkanku pada musim panas tahun ini di Stasiun Groningen Belanda. Bule-bule dengan pakaian tanpa lengan dan celana pendek. dan ada AC di atas kabin gerbong. Aku curiga…

Teh Rima sedang sibuk mencari tempat duduknya.

“Teh ini kayaknya eksekutif deh…soalnya ada AC nya” Aku sedikit berteriak pada Teh Rima.

Tanpa banyak bicara kami langsung keluar, dikejar2 waktu sih… Kami bergegas menuju kearah kereta bagian belakang.

No 1-11…

Tulisan ini tertempel di samping pintu gerbong.

Buru-buru Teh Rima masuk ke gerbong ini.

Dari pintu selatan stasiun kakakku berjalan menuju kearahku dengan langkah sigap.

Aduh salah! Pikirku

Kan seatnya nomor 19.

Tapi Teh Rima sudah keburu masuk ke dalam gerbong. Aku melihat Teh Rima melintas di jalan sambungan antargerbong. Dia masih mencari tempat duduknya.

Beberapa detik kemudian kereta melaju. Dari luar aku dan kakakku melambaikan tangan pada Teh Rima yang akhirnya menemukan tempat duduknya.

Alhamdulillah… tidak terlambat.

“Pas banget ..” kata kakakku

“Iya alhamdulillah, banyak untungnya. Untung lewat pintu selatan. Coba kalo kita lewat pintu utara, mungkin kita telat. Karena jarak dari pintu utara ke kereta lebih jauh daripada jarak pintu selatan.” Jawabku

Senangnya… untuk kedua kalinya aku menolong teman yang akan traveling naik kereta.

Orang pertama yang kutolong adalah Mbak Dokter Prima :P . Seusai Summer School di RUG beliau berencana mengunjungi temannya di Utrech. Temannya sudah mengirimkan tiket kereta eksekutif khusus untuknya.

Aku baru akan berangkat ke Zuitermeer keesokan harinya. Ini kesempatan terakhir aku bersama Mbak Prima, temen muslimahku satu-satunya di Summer School. Jadi pagi itu aku mengantar Mbak Prima ke stasiun kereta bersama dua teman se-almamater Mbak Prima (dari UGM)

Sebenarnya pagi itu juga Denis pulang ke Ghent Belgium. Namun dia memilih pergi lebih pagi sendirian karena keretanya memang berangkat lebih pagi. Sesampainya di stasiun kami sempat bertemu Denis. Dia memberikan kartu pos pada kami berempat. Di menuliskan sebuah pesan singkat pada kartu pos itu:

“Nice to meet you in Groningen. See you at www…”

Kemudian kami berpisah di situ. Setelah Summer School ini Denis berencana Traveling ke Peru bersama teman-temannya.

Saat itulah Mbak Prima mengeluarkan tiket keretanya dan…. Astaghfirullaah… di mana tiketnya?

Kok gak ada?

Kami berempat jadi panik. Kami berusaha membantu Mbak Prima mencari tiket kereta Eksekutifnya…

Aku berusaha meng-sms Pak Soegi yang masih ada di Guess House. Aku meminta tolong beliau untuk mencari tiket Mbak Prima di ruang makan. Mbak Prima merasa sempat mengeluarkan amplop berisi tiket dari temannya saat kami breakfast. Beberapa saat kemudian Pak Soegi membalas bahwa hasilnya nihil. Semua orang di Guess House sudah ikut mencari gagal. Y

a Allah… Apa mungkin terjatuh di jalan? Pikir Mbak Prima

Jarak dari Guess house ke Stasiun cukup dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi akan sia-sia, kereta akan segera berangkat Kalau kami men-trace jalan dari Guess House ke stasiun tiket Mbak Prima akan terlambat dan tiketnya hangus tiada guna.

Ya Udah… Berarti Mbak Prima harus menerima kenyataan pahit bahwa dia harus membeli tiket sendiri untuk pergi ke Utrech. Sialnya lagi, kami gak punya uang receh untuk membeli tiket via mesin tiket. Ah… berarti harus mengantri di loket pembelian tiket. Bergegas kami menuju loket.

Di ruang loket Mabk Prima segera memasuki antrian. Kami bertiga menuggu. Tanpa sengaja mataku terarah pada flyer-flyer promosi di ruang loket.

Zoomer tour

Tulisan ini ada di salah satu flyer tersebut

Aha….. Aku kan masih punya tiket Summer Tour yang kubeli bersama Bu Tati di Schiphol. Tiket ini bisa dipakai ke seluruh Belanda oleh dua orang selama 1 pekan. Hari itu adalah tepat hari terakhir masa berlaku tiket Summer Tour itu. Saat ini tiket itu terselip di dompetku.

Allahu Akbar!!!

Tiket ini memang rezekinya Mbak Prima…

Buru-buru ku beritahu Mbak Prima bahwa aku masih punya tiket Summer Tour yang bisa dipakai ke mana saja. Untungnya beliau masih di antrian dan belum membeli tiket.

Alhamdulillah… tanpa persetujuan Bu Tati aku berikan tiket itu. Kupikir beliau akan setuju, kalaupun besok kami pergi ke Zuitermeer, kami tidak akan bisa menggunakan tiket itu. Udah keburu expired. Alhamdulillah… akhirnya Mbak Prima pergi ke Utrech dengan tiket Summertour itu. Walaupun tiket tersebut bukan tiket eksekutif, yang penting bisa pergi ke sana tanpa mengeluarkan euro lagi

Beberapa waktu kemudian, Kak Arga meng sms ku. “kasiin aja tiket summer tour kamu buat prima…” “Udah kukasiin dengan senang hati …” balasku

Esok paginya, aku bertemu dengan Bu Tati di stasiun. Kami berdua akan ke Zuitermeer. Beliau semapat meminta tiket summer tour kami berdua. Rupanya informasi ynag beliau dapat tiket itu berlaku untu k8 hari. Kukatakan bahwa tiket itu hanya berlaku hingga kemarin dan sudah kuberikan pada Mbak Prima. Alhamdulillah beliau paham dan mengikhlaskan tiket itu  :)

Senangnya aku bisa membantu temanku disaat di benar2 menbutuhkan bantuanku

Leave a Reply